Upgrade to Chess.com Premium!

Pemilu

PADA setiap menjelang Pemilu kita selalu menyaksikan ribuan orang tiba-tiba menjadi pahlawan. Mereka dielu-elukan dan namanya diteriak-teriakkan dalam irama yang sama.

Pada setiap menjelang Pemilu kita segera saja dihadapkan dengan ribuan panggung teater yang dihuni aktor-aktor besar dengan beragam rona topeng: Ada yang dipahat sebagai superman, ada yang dipoles menjadi petapa sakti yang baik hati, dan ada pula yang dibentuk seperti nabi dan malaikat.

Pada setiap menjelang Pemilu kita pun dihadapkan dengan kecemasan berulang: Apakah wajah di balik topeng-topeng itu cukup pantas disebut sebagai wakil rakyat? Apakah nanti mereka masih memiliki kesempatan untuk merenungkan cucuran keringat yang menetes dari jutaan pendukungnya saat berpanas-panas di lapangan terbuka memberi mereka dorongan dan suara? Apakah setiap suara yang kemudian masuk menjadi hitungan statistik itu cukup bermakna bagi sebuah perubahan?

Pemilihan Umum sering kali menelurkan ironi. Ketika suara-suara dihitung, ketika lembar-lembar kertas suara mulai bicara, biasanya semangat mulai meredup. Rakyat lelah dan tidur panjang menunggu Pemilu berikutnya. Mereka tak lagi punya minat pada masalah-masalah politik. Segala bentuk kegilaan yang dilakukan wajah-wajah di balik topeng saat kampanye tak lagi mendapatkan perhatian cukup hingga nanti ketika kampanye tiba, ketika Pemilu berikutnya datang, ketika hiruk-pikuk dimulai lagi, arsip-arsip keburukan partai dan para wakil rakyat tak lagi terbaca.

Sejarah bangsa besar ini pun bergulir tanpa apa-apa, tanpa perubahan yang berarti. Kita cuma bisa terhenyak ketika angka-angka pertumbuhan dibeberkan, ketika jumlah pengangguran dipaparkan, ketika orang-orang bicara tentang korupsi, dan ketika harga-harga mencekik leher, biaya pendidikan tak terjangkau … dan biasanya kita membiarkan semuanya berdiri sendiri dalam peristiwa-peristiwa berbeda, dalam angka-angka yang tidak saling kait-mengait. Kita menganggap pengangguran adalah melulu persoalan ketenagakerjaan dan tidak ada kaitannya dengan pilihan kita pada saat Pemilu. Kita sering beranggapan bahwa tingginya biaya pendidikan melulu soal kebijakan Mendiknas, tanpa kita sadari bahwa kebijakan itu berkaitan erat dengan “kepintaran” kita memilih partai dan wakil saat Pemilu.

Pemilu, di negara demokratis mana pun, adalah instrumen penting bagi sebuah perubahan. Ia tidak cuma menjadi “pesta” lima tahunan. Ia tidak cuma menjadi ajang adu jotos dan adu kekuatan uang untuk memperoleh sebesar-besarnya dukungan. Pemilu adalah tempat rakyat menyatakan pendapat, tempat rakyat menentukan masa depan bangsanya. Tapi, sering kali pemilih kita, sebagian besar pemilih kita, tidak terlalu peduli dengan hal-hal yang berkaitan dengan “masa depan”. Itulah yang senantiasa dimanfaatkan oleh para petualang politik dalam panggung-panggung kampanye.

Dan, apa boleh buat, Pemilu di negeri ini selalu saja diikuti dengan aneka pelanggaran yang tidak pernah terselesaikan. Dan, apa boleh buat, kemiskinan sepertinya pantas dibiarkan agar para pemegang uang dengan mudah membeli suara. Dan, apa boleh buat, rakyat harus tetap dibuat bodoh agar mereka tidak protes ketika suara mereka dibolak-balik dalam tabulasi. Dan, apa boleh buat, pemilu memang bukan untuk rakyat. Pemilu adalah sebuah game mahal yang dimainkan oleh para penguasa dengan wajah riang. Rakyat? Silakan berpesta dengan recehan 100 ribuan dan suaramu telah terbeli. Tak perlu menuntut apa-apa.

Apa boleh buat, kita hidup di negeri ajaib.

--ketut syahruwardi abbas

 

Comments


  • 6 years ago

    Djamiat

    Aduh Pak Ketut, tulisannya Ok banget. Yang pasti aku suka gaya penulisannya. Ketika menggambarkan panggung politik kita  yang dipenuhi oleh aktor-aktor bertopeng, yang tidak Pede dengan wajah aslinya.

    Tapi Pak Ketut, tak perlu begitu pesimistis, karena saya yakin tidak semua rakyat bisa dibohongi oleh penampilan topeng topeng itu. Kareana orang yang bertopeng tak akan betah untuk berlama-lama bersembunyi dibalik topeng. Ada saatnya ia mulai gerah dan menunjukkan wajah aslinya.

    Hal itu terbukti dari banyaknya cerita di negeri dongeng ini pasca Pemilu, ketika para pembohong itu gantian dibohongi rakyat. Para pembeli suara itupun menampakkan wajah asli, seperti menarik kembali  bantuan yang telah mereka diserahkan, baik yang berbentuk semen politik, pasir politik dan segala jenis money politik lainnya.

    Kiranya tak perlu begitu risau dengan topeng-topeng itu, anggap saja itu seperti kita para pecatur, menggunakan avatar yang setiap waktu kita ganti sesuai kehendak hati.

    Tetapi soal sportifitas, para politisi bertopeng tadi memang perlu banyak mengaca pada kita para pecatur.

    Tetapi kalau toh Pak ketut masih juga risau dengan percaturan politik negeri ini, akupun terpaksa mengutip kata terakhir dari Pak Ketut :

    "Apa boleh buat, kita hidup di negeri ajaib."

      Salam "Gen Ora Sumuk"  artinya :  "Biar Tidak Gerah," hehe..

Back to Top

Post your reply: