x
Chess - Play & Learn

Chess.com

FREE - In Google Play

FREE - in Win Phone Store

VIEW

Kemiskinan

balibagus
May 29, 2009, 2:44 AM 3

BUDIANA, sebutlah begitu, seorang buruh tani dari desa pedalaman di Buleleng, suatu hari menghadiri acara yang diselenggarakan Dinas Sosial. Hatinya bungah bukan kepalang karena dalam acara itu ia menerima uang sejumlah Rp 2,5 juta untuk pengobatan anaknya yang lahir dalam keadaan cacat. “Uang ini dipergunakan untuk biaya mondar-mandir. Seluruh biaya pengobatan ditanggung pemerintah,” ujar petugas seperti dituturkan Budiana.

Anak laki yang dilahirkan dari rahim istri Budiana memiliki struktur tulang yang tak bisa disebut normal, terutama pada kedua tangan dan kaki. Konon dokter bedah tulang dapat “meluruskan”-nya kembali.

Seperti dianjurkan petugas yang memberikan “sangu” Rp 2,5 juta tadi, Budiana pun datang ke RS setempat untuk meminta surat rujukan. Tapi petugas pada RS itu membentaknya. “Surat rujukan untuk apa? Apa Bapak kira di sini tidak bisa ditangani?” kata petugas rumah sakit —masih menurut penuturan Budiana. Walhasil, si bayi pun diinapkan di rumah sakit kabupaten dengan diagnosa gizi buruk. Dua minggu dirawat, sementara “biaya mondar-mandir” Rp 2,5 juta itu telah menipis, Budiana disuruh membawa bayinya ke RS Sanglah. “Operasinya tidak bisa dilakukan di sini,” kilah salah seorang petugas di RS Kabupaten. Ini pun masih menurut penuturan Budiana.

Masih berharap akan memperoleh bantuan biaya pengobatan, Budiana membawa bayinya ke Denpasar. Ia pun harus pula memboyong istri dan anak pertamanya yang telah berumur 5 tahun. Sampai di RS Sanglah, ia kebingungan karena ternyata si anak masih didiagnosa gizi buruk dan harus dirawat dulu sebelum tindakan operasi dilakukan. Berbekal secarik kertas Keterangan Miskin, Budiana berkeyakinan bayinya akan memperoleh perawatan tanpa biaya seperti pernah dijanjikan. “Nyatanya saya masih harus membayar obat yang saya beli, walaupun tidak semua. Kalau obatnya mahal, maka saya harus membayar separohnya,” kata Budiana.

Kini Budiana kebingungan. Uang “sangu” Rp 2,5 juta telah ludes. Ada bantuan dari beberapa kerabatnya, tetapi itu pun sangat tidak mencukupi. “Ada niat untuk menjual sepetak kebun warisan dari almarhum ibu, tapi saya bingung. Hasil penjualannya pasti tidak seberapa, sementara saya tidak tahu berapa lama saya harus di sini,” keluh Budiana sambil memandang langit-langit rumah sakit. Pasalnya, ia tidak cuma harus membayar obat. Ia juga harus membeli makan-minum untuk dirinya beserta istri-anaknya. Hampir sebulan sudah Budiana berada dalam ketidakpastian. Sementara musim petik kopi di kampungnya lewat sudah.

Kemiskinan, seperti dialami Budiana, hampir-hampir seperti sebuah “kutukan”. Mungkin karena kekurangan gizi, anak yang dilahirkan sangat rawan terkena masalah. Untuk mengobati “masalah” itu diperlukan biaya yang tidak sedikit. Sialnya, saat memerlukan biaya besar untuk pengobatan, orang-orang seperti Budiana kehilangan kesempatan untuk memperoleh penghasilan sebagai buruh tani. Tak jarang tanah sepetak pun harus pula dijual dengan nilai rupiah yang sangat tidak sebanding.

Kemiskinan, di hampir semua tempat, mirip sebuah “kutukan”: Selalu saja membawa runtun masalah yang kait-mengait. Tiap simpul masalah begitu rumit  sehingga tiap usaha untuk mengurainya senantiasa berakhir dengan kerumitan yang lebih dalam. Seperti Budiana, kini ia sedang berfikir untuk tidak menunggu lebih lama lagi. Ia ingin segera pulang, menerima saja kenyataan bahwa anaknya lahir cacat. Itu berarti, sebulan “pengorbanan” Budiana tidak berbuah apa-apa kecuali tambahan beban karena utang.

Saya benar-benar tidak faham kondisi seperti ini. Ribuan telaah, penelitian, dan perdebatan seperti kerlip bintang di kegelapan. Konon pemerintah memiliki dana untuk “membantu” orang-orang seperti Budiana. Konon pula dana itu merupakan kompensasi dari pencabutan subsidi BBM yang secara tidak langsung memperbanyak orang yang senasib dengan Budiana. Tapi cobalah lihat, Budiana harus mondar-mandir mengurus berbagai surat. Hasilnya, ya itu tadi, ia masih harus pontang-panting mencari uang untuk membayar obat-obatan yang tidak sepenuhnya ditanggung.

Kemiskinan, entah kenapa, seperti menjadi dosa tak berampun. Sebab, kini, harkat kemanusiaan jauh berada di bawah kibasan rupiah. Saya pun teringat pada seorang gadis muda yang saya temui di sebuah rumah sakit di Bogor. Dengan wajah kuyu ia menyatakan siap “melepas keperawanan” seharga Rp 2 juta untuk membayar biaya perawatan ibunya yang menderita kanker payu dara. Mata saya nanar menyaksikan sahabat saya sendiri, seorang pengusaha berusia 37 tahun, menggandeng gadis yang masih duduk di kelas III SMA itu keluar dari rumah sakit dan membawanya entah ke mana.

Kisah tentang orang-orang miskin, orang-orang papa, orang-orang yang jauh dari wewangian tubuh, adalah kisah memilukan yang sangat mudah dilupakan. Sebab kisah tentang mereka sangat banyak dan tak mungkin mengingatnya satu per satu. Maka jadilah mereka deretan angka-angka yang dianalisis di gedung parlemen. Hasilnya adalah lahan korupsi, sementara bayi yang lahir dari rahim istri Budiana tetap tak terurus, sementara gadis muda tadi harus menyerahkan keperawanannya untuk mendapatkan uang yang —sangat mungkin— merupakah hasil korupsi, langsung atau tidak.

Kemiskinan, memang, mirip-mirip sebuah kutukan. Karena itu, banyak orang yang jijik memandangnya. Karena itu, banyak orang yang bersedia melakukan kenistaan paling keji sekalipun untuk tak berdekatan dengannya.

Namun, di sisi lain, bagi kepentingan politik, kemiskinan bisa jadi sangat menguntungkan. Seorang sahabat pernah berkata, “Untuk mengukuhkan kekuasaan, biarkan kebodohan dan kemiskinan tetap meluas. Nanti, saat pemilu, kita akan sangat mudah membeli suara dari jutaan rakyat bodoh dan miskin.” Entahlah.

ketut syahruwardi abbas

Online Now