Alkitab di Indonesia

tesasembiring
tesasembiring
Feb 11, 2015, 5:17 PM |
0

Tepat 33 tahun setelah Wakil Serikat Dagang Kompeni Hindia Timur atau VOC Cornelis de Houtman menjejakkan kaki di bumi Nusantara pada tahun 1596, Alkitab berbahasa Melayu pertama di cetak di Enkhuizen, Belanda, dalam aksara latin. Penerjemahnya adalah Albert Cornelisz Ruyl,seorang saudagar muda yang mengunjungi Batavia sekitar 1599-1600. Sejak itu,penerjemahan Alkitab ke bahasa-bahasa daerah terus berlanjut. Bahasa-bahasa daerah yang awalnya hanya diucapkan secara lisan akhirnya terdokumentasikan dalam tulisan.

Edisi pertama Alkitab berbahasa Melayu itu dicetak sebanyak 480 eksempar oleh percetakan Jan Jacobsz dengan biaya dari VOC. Sejarah tersebut terpapar dalam buku "Injil Adalah Kekuatan Allah yang Menyelamatkan, Dinamika 60 tahun Pelayanan Lembaga Alkitab Indonesia karangan Weinata Sairin, Rainy MP Hutabarat dan Yoel M Inrasmoro tahun 2015.

Menurut ketua Badan pengurus Alkitab Indonesia (LAI) Pdt Weinata Sairin, Alkitab diterjemahkan bahasa melayu karena bahasa ini menjadi penuturan utama di kawasan Hindia Timur, Semenanjung Melayu bahkan sampai Filipina pada abad ke - 7, sempat muncul pro dan kontra, apakah bahasa melayu yang digunakan adalah melayu tinggi atau melayu lokal ( kasar)," katanya

Terjemahan Ruyl lebih condong pada jenis Melayu tinggi sehingga sulit di pahami oleh orang-orang di East Hindia pada waktu itu. Pada tahun 1662, Pdt Daniel Brouwerius yang menterjemahkan perjanjian baru ke dalam bahasa Melayu Ambon. Karena banyak mengadopsi bahasa Portugis yang mengoloni Ambon dan Timor-timur. Terjemahan ini dinilai berantakan.

Penerjemahan terus di terjemahkan seperti oleh Melchior Leijdecker, seorang dokter kedokteran dan ahli Teologi yang berinisiatif menyusun kamus bahasa Melayu tinggi (1678). Ini membantu terjemahan selanjutnya.

Alkitab bahasa Daerah

Lembaga formal penerjemahan Alkitab, Java Auxillary Bible Society, mulai berdiri di Batavia yang sebagai ibukota East Hindies pada era Gubernur Jendral Raffles ( orang Inggris) tahun 1814. Setelah kemerdekaan (1945) baru muncul LAI pada tahun 1954 pada jaman Orde lama yang sampai sekarang menjadi lembaga khusus penerjemahan Alkitab Kristen.

"Penerjemah Alkitab terus berkembang antara lain secara beruntut ; bahasa Karo (SUMUT), bahasa Jawa, Toraja, Ngaju, Toba, Bugis,Nias,Timor, Baree. Sebagian diterjemahkan dari bahasa lisan menjadi bahasa tulis dengan melibatkan para penerjemah yng sangat terpercaya. Prosesnya 5-10 tahun kata Ketua umum LAI Pdt. Ishak P Lambe.

Penerjemahan Alkitab selama berabad-abad itu akhirnya membuahkan hasil yang berguna sampai sekarang kepada orang biasa sampai pejabat.

Abraham Tesa Sembiring di Jakarta 12 Februari 2015.