Upgrade to Chess.com Premium!

Menggugat Metafisika dengan "Interpretasi"

  • emde
  • | Nov 25, 2009 at 6:38 PM
  • | Posted in: emde's Blog
  • | 1078 reads
  • | 9 comments

Dari sudut pandang pemikiran, gapura peralihan dari modern ke posmodern adalah pada Nietzsche. Posmodernisme menjadikan adigum "kematian Tuhan" Nietzsche sebagai "end of modern philosophy" (makna lebih dalam bisa ditelusuri pada konsep endism Fukuyama dan Derrida). Oleh banyak penafsir Nietzsche, ia dianggap sebagai tokoh yang sangat anti agama. Tetapi benarkah demikian? Tyler T. Roberts, dalam penelitian disertasi Ph.D-nya di Harvard yang kemudian diterbitkan dalam buku berjudul "Contesting Spirit: Nietzsche, Affirmation, Religion" memberikan pandangan yang berbeda; Nietzsche adalah tokoh yang berdiri di posisi tengah antara anti agama dan pemikir agama. Signifikansi Nietzsche dalam genealogi agama terutama adalah kritiknya yang berhasil menumbangkan pohon keramat agama yang membelenggu dengan buaian yang menghibur dan ilusif, dan memunculkan sensibilitas spiritual yang baru. Dari sinilah posmodern menemukan momentumnya untuk membangun kembali masyarakat yang "tidak ogah" dengan agama; dalam bahasa Jonathan Smith, sebagai "imagining religion".

Kritik paling mendasar Nietzsche terhadap agama adalah moral religi-nihilistik dalam masyarakat Barat – kampung halaman Nietzsche – yang mengatasnamakan Tuhan untuk membentuk gambaran pengosongan manusia dari penghargaan diri apapun. Nietzsche menyatakan bahwa penganut agama bukan memproyeksikan segala "kemungkinan" dan kesempurnaan mereka ke dalam Tuhan, malah sebaliknya memproyeksikan suatu "kemustahilan". Dengan kata lain, Tuhan menjadi yang sama sekali tidak dapat dicapai manusia. Inilah yang membuat manusia tampak tidak berharga.

Lewat kritiknya itu, Nietzsche sudah mengayunkan "kapak bermata dua" (bukan hanya palu godam). Dengan satu sisi ia mengkritik metafisika yang menempatkan "ketakterjangkauan" Tuhan dan mencurigai nilai 'kebenaran' yang menyertainya; dan sisi yang lain "memenggal kebancian" manusia yang tidak memiliki kesadaran dirinya.

Kecurigaan Nietzsche menjadi pintu masuk yang dilalui Derrida untuk membongkar metafisika lewat satu ungkapan bahwa wacana filosofis adalah wacana formal, retorikal, dan figuratif yang harus ditelanjangi. Seperti juga Nietzsche, yang mendorong manusia untuk terus mencipta (melalui will to power-nya) keanekaragaman interpretasi, maka Derrida lewat teori dekonstruksinya menghendaki pencarian terus menerus terhadap kebenaran sebagai penghadiran sesuatu dalam dan bagi dirinya sendiri. Bagi Derrida, makna bergerak terus menerus di sepanjang matarantai penanda. Dan Nietzsche membaca sejarah moralitas, sebagaimana dalam Genealogy of Moral-nya, sebagai teks, sebagai makna yang silih berganti. Tujuan serta alat untuk mencapainya adalah tanda-tanda yang merupakan rangkaian kontinu dari interpretasi yang selalu baru. Maka, "yang benar" selalu berada dalam posisi tertangguhkan; dan bentuk ini secara jelas diungkapkan Derrida dengan "tanda silang" (sous rature), yaitu bahwa tanda selalu dimuati jejak-jejak (trace) tanda lain yang tidak pernah muncul secara utuh. Otoritas teks hanya bersifat sementara.

Dari argumentasi teks ini, Derrida mengatakan bahwa metafisika adalah sebuah kehadiran (metafisika kehadiran), yang disebut juga sebagai "onto-teologi" atau ilmu tentang Mengada atau Tuhan sebagai kehadiran yang berlangsung terus-menerus. Derrida menggugat metafisika para pendahulunya yang meyakini bahwa sudah ada asumsi wilayah kepastian yang serta merta tersedia. Dalam pandangan Derrida, yang ada adalah intertekstual, yang dihasilkan oleh adanya penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda dan Petanda terus terpisah dan menyatu kembali dengan kombinasi-kombinasi baru, dan menghasilkan makna yang baru; demikian seterusnya tanpa berkesudahan. Maka tidak ada sesuatu yang bersifat mutlak, kecuali bahwa makna dipahami melalui intertekstual, dalam pembacaan oposisi biner. Setiap makna baru yang muncul meninggalkan jejak dari makna sebelumnya sehingga membentuk matarantai dalam kompleksitas yang tidak ada habisnya. Dengan demikian Derrida menolak adanya kehadiran dalam pengertian tunggal. Kehadiran adalah sesuatu yang berlangsung terus menerus, "di sini" dalam spatial and temporal.

Dengan demikian, melanjutkan gagasan Nietzsche, Derrida mendobrak kebuntuan interpretasi metafisis. Metafisika bukan lagi sesuatu yang tak terjangkau. Tuhan juga bukan lagi sesuatu yang hanya wujud dalam realitasNya sendiri, yang tidak tercerap oleh fakultas pengetahuan manusia. Jika Nietzsche menjadikan will to power sebagai pisau bedah untuk melakukan interpretasi atas "ketidakhadiran" manusia pada dirinya, maka Derrida menggunakan "teleskop" teks untuk meneropong keberagaman makna yang lahir dari intertekstual. Dan dengan itu, keduanya menggugat sekaligus mengatasi "ketakterjangkauan" dalam metafisika. 

Comments


  • 4 years ago

    Tambunan

    Hehehe... sederhana sekali.

    Terima kasih bung emde, ilustrasinya menarik. Saya juga selalu datang ke tukang cukur kalau memang saya membutuhkannya.

    Agak geli sedikit tadi awal mula membaca dialog itu. Kok bisa-bisanya TUHAN disamakan dengan tukang cukur?

    Laughing

    Btw, saya bisa mengerti maksudnya. Trims bung emde.

  • 4 years ago

    emde

    hehehe... senang juga bisa berdiskusi dengan bung T....banyak orang yang tidak mau mendiskusikan masalah ini dengan bermcam alasan, salah satunya adalah alasan: "Tuhan tidak perlu dibuktikan, cukup diyakini". hehehehe...

    Ini hanya salah satu cara membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Tulisan ini saya kutip dari salah satu situs. Cara ini sangat sederhana, dan tidak serumit yang dilakukan oleh para filosof dan teolog.

    http://parapemikir.com/tuhan-tidak-ada.html

    Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya.

    Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

    Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.

    Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.
    “Kenapa kamu berkata begitu ???” timpal si konsumen.
    “Begini, coba Anda perhatikan di depan sana , di jalanan… untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada.
    Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada,
    Adakah yang sakit??,
    Adakah anak terlantar??
    Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan.
    Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”

    Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.

    Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.

    Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar (mlungker-mlungker- istilah jawa-nya), kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

    Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata, “Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR.”

    Si tukang cukur tidak terima,” Kamu kok bisa bilang begitu ??”.
    “Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!”

    “Tidak!” elak si konsumen.
    “Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana “, si konsumen menambahkan.

    “Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!”, sanggah si tukang cukur.
    ” Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya”, jawab si tukang cukur membela diri.

    “Cocok!” kata si konsumen menyetujui.
    “Itulah point utama-nya!.
    Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !
    Tapi apa yang terjadi… orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA.
    Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”

    Si tukang cukur terbengong !!!

  • 4 years ago

    Tambunan

    Sebelumnya saya ingin berterimakasih kepada bung emde yg telah melayani diskusi ini.

    Diskusi kita ini semakin menarik perhatian saya. Apalagi setelah membaca pernyataan bung emde, "Sebab Tuhan adalah realitas yang mutlak, dan itu bisa dibuktikan dengan banyak cara."

    Sepengetahuan saya, TUHAN hanya bisa diyakini. Sebab pada saat menginginkan bukti bagaiman wujud TUHAN, saya belum mendapatkan jawaban.

    Bagaimana bung emde membuktikannya?

  • 4 years ago

    emde

    Boleh juga tuh kenalan sama si Narsiem...hahahahaha

    Pertama dulu bung T, saya sangat meyakini bahwa Tuhan itu ada. Dia mengatur segala sesuatu, tapi tidak seperti dalang. Sebab dalang hanya melakukan berdasarkan sudut pandangnya saja, sementara Tuhan mengatur segala sesuatu dengan juga memperhatikan sudut pandang ciptaanNya.

    Mengatakan bahwa Tuhan adalah buah pikiran manusia, pada akhirnya menghasilkan kesimpulan bahwa Tuhan itu "tidak ada", hanya ilusif, konsep, dan sekedar menghibur. Persis seperti apa kata Nietzche. Makanya, saya mungkin ga sependapat mengatakan Tuhan hanya buah pikiran manusia. Sebab Tuhan adalah realitas yang mutlak, dan itu bisa dibuktikan dengan banyak cara.

  • 4 years ago

    Tambunan

    Menurut saya, pertanyaan yang bung emde utarakan itu telah banyak saya dengar dengan jawaban agar manusia mengenal penciptanya. Hehehe... (Terkesan narsiem. Narsiem adalah Iem, wanita genit yang anggun, yang terkadang narsis ngga ketulungan.)

    Lalu kemudian masih tersisa pertanyaan saya yg tadi, untuk apa?

    Kerangka berpikir dari pertanyaan itu adalah mencoba memahami sudut pandang bahwa TUHAN adalah dalang di balik dunia, surga dan neraka.

    Ternyata simpel. Apa yg rumit?

    Dunia adalah kebebasan, Surga adalah kemenangan, dan neraka adalah kekalahan.

    TUHAN itu buah pikiran manusia. Bagaimana menurut bung emde?

  • 4 years ago

    emde

    Hidup ini memang permainan bung T, tapi seperti kata Plato, Tuhan tidak bermain dadu. "Permainan" yang dimainkan oleh Tuhan terorganisir dan teratur, dengan segala peraturan, punish and reward.

    Pertanyaan bung T, "untuk apa Tuhan mencipta?" adalah pertanyaan yang sangat mendasar dan rumit. Tapi, apa perlu kita tahu mengapa Tuhan mencipta? Mana yang lebih penting buat kita, pertanyaan itu atau pertanyaan "untuk apa kita diciptakan?".

  • 4 years ago

    Tambunan

    Konsep ketuhanan yg bung emde utarakan seperti TUHAN yg sedang main game.

    Saya jadi punya unek-unek, untuk apa TUHAN membuat manusia dan ciptaannya?

    Capek deh...

  • 4 years ago

    emde

    Semua agama berpotensi memenjarakan kebebasan manusia manakala ia ditafsirkan secara sempit, apalagi jika dimuati kepentingan penafsirnya. Hubungan manusia dan Tuhan sering dipahami dalam posisi bersaing dalam hal kebebasan dan tindakan. Ketika Tuhan, dengan segala sifat keagungan dan kemahaannya, dipahami tanpa melihat potensi yang dimiliki manusia -- yang sesungguhnya juga diberikan oleh Tuhan -- di sanalah manusia menjadi terbelenggu.

    Memahami hubungan Tuhan dan manusia seharusnya dipahami sebagai hubungan dialogis. Tuhan, dengan segala kemahaannya, memang bisa saja melakukan segala sesuatu sesuai kehendaknya, tetapi kehendak Tuhan tidak jarang berlaku berdasarkan permintaan dan perbuatan manusia. Artinya, Tuhan memberi kebaikan kepada manusia, jika manusia memintanya dan melakukan sejumlah premis yang mengantarnya pada kebaikan itu; dan begitu juga sebaliknya.

    Agama apa pun, dengan konsep ketuhanannya masing-masing, sejatinya membebaskan manusia dari keterbelengguan, baik oleh belenggu dirinya sendiri maupun oleh belenggu entitas lain di luar dirinya, termasuk Tuhan.

  • 4 years ago

    Tambunan

    Yang dimaksud dari "agama" itu apakah semua agama di dunia ini?

    Atau hanya soal "ketuhanan"?

    Menarik nih...

Back to Top

Post your reply: