Takdir Tuhan / The Destiny

Takdir Tuhan / The Destiny

emde
emde
Jul 13, 2010, 8:23 AM |
1

Takdir itu adalah batas atau ukuran. Takdir Tuhan atas manusia itu bisa diibaratkan dengan batas kecepatan yang tertera di speedometer sebuah mobil/motor yang sudah ditentukan oleh pabrikan sejak pembuatannya. Seorang pengendara bisa memilih mau memacu dengan kecepatan berapa pun sepanjang tidak melebihi batas kecepatan yang tertera di speedometer itu.

Tuhan sudah menentukan batas-batas -- katakanlah dari 0 sampai 10 -- segala sesuatu yang akan terjadi atas diri seseorang. Tetapi manusia bisa memilih batasnya sendiri antara 0 sampai 10 itu. Bisa saja 0-5, atau 0-7, dan sebagainya.

Jadi, berlakunya sebuah takdir Tuhan tidak lepas dari sikap kita atas takdir yang ditetapkan Tuhan. Jika seseorang pergi ke laut padahal dia tahu bahwa dirinya tidak bisa berenang, maka -- kalau kita menghitung dari 0-10 -- kemungkinan dia tenggelam adalah 9, bahkan 10. Tetapi kalau dia ke laut sambil membawa pelampung, maka kemungkinan dia tengelam adalah 1-5. Takdir Tuhan mengatakan si A tidak bisa berenang dan kalau dia ke laut akan tenggelam dan mati. Itu batas maksimal. Tetapi si A bisa memilih untuk tidak tenggelam, dan itu adalah pilihan dia atas takdir Tuhan.

Kita harus yakin bahwa Tuhan tidak pernah menginginkan apalagi menetapkan sesuatu yang buruk atas hamba-Nya. Buruk atau tidaknya sesuatu yang terjadi atas diri kita sangat tergantung pada pilihan yang kita ambil. Takdir Tuhan selalu menghendaki kebaikan bagi siapa pun, tetapi tidak semua orang memilih untuk menerima takdir baik itu.

So, you are what you think about you are. Pikiran itu akan men-drive pemiliknya untuk melakukan dan mencapai apa yang ada dalam pikirannya. Potensi-potensi yang tertanam di dalam diri akan bergerak simetris dengan pikiran. Dan itulah yang coba diyakinkan Tuhan pada kita bahwa siapa pun yang mampu mengembangkan potensi dirinya, ia akan beruntung; sebaliknya mereka yang gagal mengembangkan apalagi mengabaikan potensinya, ia akan merugi (QS. asy-Syams/91: 7-10). Wallahu a'lam.

(English version is translated by google translator, please suggest the better)

The meaning of destiny is the limit or size. The God's destiny can be compared to the speed limit indicated on the speedometer of a car / motorcycle that had been determined by the manufacturer since creation. A rider may choose to drive with any speed as long as not exceeding the speed limit indicated on the speedometer.

 God has set limits – we could say for example, from 0 to 10 - everything that will happen to someone even to the all creations (makhlûq). But people can choose their own limits between. It could be 0-5, or 0-7, and so forth.

Thus, the validity of a providence of God can not be separated from our attitude on the fate that God established.
If someone went to sea when he knew that he could not swim, then - if we count from 0-10 - the possibility he drowned is nine, even 10. But if he's out to sea, carrying a float, then it is likely he drowned is 1-5. The destiny of God says that if  A can not swim and he going into the ocean then he will die. That's the maximum limit. But the A can choose to not drown, and that is her choice on the destiny of God.

We must believe that God never wanted or set a bad thing for His servants. Whether or not something bad happen to us very dependent on the choices we make. The destiny of God always wants good for anyone, unfortunately not everyone chooses to accept the good destiny.

So, you are what you think about you are. The thought will drive to accomplish what he had in mind. All potentials that are embedded within the mind will move symmetrically. And that's what God's trying to be convinced us that anyone who is able to develop her potential, will be lucky, otherwise those who failed to develop much less ignore its potential, will lose (Surat asy-Syams/91: 70-10). And Allaah knows best.